Senin, 11 Juni 2012

MAKNA SELAMATAN SEBAGAI NAZAR DALAM UPACARA RITUAL GUNUNG KAWI

BAB 1
PENDAHULUAN
A.LATAR BELAKANG
Gunung Kawi,terdengar dari nama nya orang pasti sudah mengartikan dengan pesugihan atau mitos mitos klenik lain nya. Gunung Kawi terletak di kabupaten malang,berada di ketinggian 2860m dari permukaan laut. gunung Kawi masih merupakan tempat kunjungan wisata favorit yang sampai saat ini masih banyak di kunjungi wisatawan dari berbagai daerah. Banyak orang yang datang kesini untuk melakukan ziarah ke makam Eyang Djugo dan makam Eyang RM Iman Soedjono. Kedua makam tersebut adalah makam yang istimewa,makam dua orang yang di anggap mempunyai kelebihan. ini terbukti dari banyak nya pengunjung dan peziarah yang datang untuk berziarah di sini. Terlebih pada hari hari tertentu seperti malam jum’at legi banyak peziarah yang datang berduyun duyun ke sini. Tidak hanya dari wilayah Malang ataupun Jawa Timur saja,tetapi juga dari berbagai daerah di nusantara. Pengunjung dari etnis tionghoa yang menganut salah satu agama tertentu,mempunyai pendapat lain tentang makam Eyang Djugo dan makam RM Iman soedjono. Mereka menganggap dua makam tersebut adalah makam tokoh kharismatik yang hidup dengan penuh cinta kasih,welas asih dan mampu memberikan kedamaian.
            Kuliah metode penelitian mengharuskan saya untuk melakukan penelitian sebagai ujian akhir semester. Saya dan teman-teman bersama Bu Dosen sepakat untuk mengadakan penelitian di “Gunung Kawi”Sepulang dari penelitian tersebut terus terang saya kebingunggan untuk memilih judul dan tema yang pas untuk dijadikan judul penelitian saya.ada satu hal yang membuat saya tertarik saat berada di sana saya tertarik dengan salah satu ritual yang disebut “slametan”banyak orang sedang berdiri di loket yang tersedia dan saya bingung apa yg mereka lakukan….
 Atas dasar keingintahuan saya tersebut saya berusaha untuk mencoba memahami secara lebih mendalam  tentang makna slametan sebagai nazar,dengan mengobservasi tentang upacara di Gunung Kawi.karena  dalam upacara digunung kawi ternyata ada upacara slametan yang memang telah dijadikan sebagai nazar bagi orang-orang yang datang berkunjung ke Gunung Kawi.Oleh karena itulah diperlukan adanya observasi ini untuk mengetahui secara jelas bagaimana manfaat dari slametan yang dilakukan

B.RUMUSAN MASALAH
Atas dasar uraian diatas dapat dibuat rumusan masalahnya sebagai berikut:
1.     .Apa sebenarnya yang menjadi tujuan seseorang datang ke gunung kawi?
2.    Apa yang dimaksud dengan slametan?
3.    Mengapa dalam mengolah makanan yang dijadikan slametan masih bersifat  tradisional sedangkan jaman terlihat sangat modern?
4.    Apa manfaat yang didapat setelah mengadakan slametan tersebut?
C.TUJUAN
Observasi ini bertujuan untuk menjelaskan makna selametan di Gunung Kawi  sesunggunya kepada masyarakat.agar tidak terjadi kesalapahaman terhadap makna selametan itu sendiri.
D.MANFAAT
Secara teoritis observasi ini diharapkan mampuh menjadi suatu pandangan yang baik dalam kebudayaan masyarakat jawa.selain itu mampu menjadi jawaban atas pandangan orang lain terhadap Gunung Kawi dan Ritual selametannya.
Namun secara praktisnya lagi,observasi ini bertujuan untuk memperkenalkan suatu pengertian tentang slametan dalam kebudayaan jawa terhadap kebudayaan luar.
E.METODE PENELITIAN
Metode yang kami gunakan dalam observasi ini adalah:
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Pendekatan tersebut dilakukan dengan metode wawancara, pengamatan dan dokumentasi. Wawancara itu bersifat tidak terstruktur dengan menggunakan pedoman wawancara yang berkembang sesuai kebutuhan di lapangan. Pengamatan yang dilakukan bersifat non-partisipatif. Dokumentasi didapatkan dari literatur tertulis dan di internet

F.WAKTU PELAKSAAN
Hari                : kamis
Tanggal           : 24 Mei 2012
Waktu            : 18.00 s/d selesai
BAB 11
TINJAUAN PUSTAKA
Tradisi ritual tersebut kadang-kadang memang kurang masuk akal. Namun demikian, bagi pendukung budaya yang bersangkutan yang dipentingkan adalah sikap dasar spiritual yang berbau emosi religi, bukan logika. Karena itu, dalam tradisi ritual biasanya terdapat selamatan berupa sesaji sebagai bentuk persembahan atau pengorba­nan kepada zat halus tadi yang kadang-kadang sulit diterima nalar. Hal ini semua sebagai perwujudan bakti makhluk kepada kekuatan supranatural.
Pada saat manusia menghidangkan sesaji, menurut Robertson Smith (Kcentjaraningrat, 1990:68) memiliki fungsi sebagai aktivitas untuk mendorong rasa solidaritas dengan para dewa. Dewa dianggap sebagai komunitas istimewa. Hal juga ditegaskan oleh Preusz bahwa pusat dari religi dan kepercayaan adalah ritus atau upacara.
Menurut­nya, upacara religi akan bersifat kosong, tak bermakna, apabila tingkah laku manusia di dalamnya didasarkan pada akal rasional dan logika, tetapi secara naluri manusia memiliki suatu emosi mistikal yang mendorongnya untuk berbakti kepada kekuatan tertinggi yang menurutnya tampak konkret di sekitarnya, dalam keteraturan dari alam, serta proses pergantian musim, dan kedahsyatan alam dalam hubungannya dengan masalah hidup dan maut.
Yang perlu ditekankan dalam kajian religi, menurut Geertz (2001:395-410) bahwa kajian budaya, bukanlah “sebuah sains ekspe­rimental yang mencari suatu kaidah, tetapi sebuah sains interpretatif yang mencari makna”. Makna harus dicari dalam fenomena budaya. Keyakinan terhadap makna ini, didasarkan pada kondisi hidup manu­sia, yang menurut Parsons dan Weber selalu berada pada tiga tingkatan: (1) kepribadian individual, yang dibentuk dan diatur oleh, (2) suatu sistem sosial, yang pada akhirnya dibentuk dan dikontrol oleh, (3) suatu “sistem budaya” yang terpisah. Tingkatan (3) ini yang merupakan jaringan kompleks dari simbol, nilai, dan kepercayaan, berinteraksi dengan individu dan masyarakat.
Menurut Stewart (Beatty, 1999:4) dalam membahas religi, perlu membicarakan keterkaitan antara keberagaman tradisi, kemajemukan, dan perbedaan budaya. Tradisi tertentu – mistik, Islam, lokal – yang mengalami hibridasi akan masuk ke dalam wacana ritual dan religi. Jika di dalamnya terdapat sinkretisme, maka yang terjadi adalah sebuah proses dinamik dan berulang, suatu faktor yang konstan dalam reproduksi kebudayaan, dan bukan hasil yang statis. Pendek kata, sinkretisme merupakan konsep yang mengarah pada “isu akomodasi, kontes, kelayakan, indigenisasi, dan wadah bagi proses antar budaya yang dinamik”.
Tegasnya dalam kajian budaya religi, peneliti akan memahami religi bukan semata-mata agama, melainkan sebagai fenomena kultural. Religi adalah wajah kultural suatu bangsa yang unik. Religi adalah dasar keyakinan, sehingga aspek kulturalnya sering mengapung di atasnya. Hal ini merepresentasikan bahwa religi adalah fenomena budaya universal. Religi adalah bagian budaya yang bersifat khas. Budaya dan religi memang sering berbeda dalam praktek dan pene­rapan keyakinan. Namun demikian keduanya sering banyak titik temu yang menarik diperbincangkan.
Dalam pandangan Geertz (2000:170) religi adalah sebuah pengalaman unik yang bermakna, memuat identitas diri, dan kekuatan tertentu. Sebagai sebuah pengalaman, tentu saja religi tak akan lebih dari subyektivitas pelakunya. Dengan kata lain, religi akan berhu­bungan dengan rasa, tindakan, dan pengalaman nyata yang berbeda­beda satu dengan yang lain. Setiap orang memiliki perasaan dan pengalaman yang berbeda dalam menjalankan religi masing-masing. Bahkan, dalam perkembangan selanjutnya religi sering dipengaruhi oleh hal ihwal di luar dirinya. Aktivitas politik, modernisasi, gender, dan perubahan dunia amat berpengaruh terhadap fenomena religi. Itulah sebabnya, kajian religi boleh sangat luas dan melebar sesuai keperluan.
Berangkat dari teori ini saya ingin menjelaskan tentang kebudayaan ang ada di peradaban pulau jawa mengenai slametan selain itu saya juga ingin melihat dari pandangan religious karena saya melihat “slametan” disini merupakan kepercayaan yang timbul dari diri seseorang.
A.SLAMETAN
Tradisi slametan berakar dari budaya asli Jawa (animisme dan dinamisme) dan selanjutnya dihidupkan dan diperkaya oleh budaya Hindu Budha. Masuknya Islam di Jawa menggunakan pola “damai” dengan persuasi sehingga masih terdapat simbol-simbol budaya masa lalu (animisme-dinamis, Hindu-Budha yang masih menjadi “pola” pikir dan paradigma masyarakat Jawa.

    Slametan adalah konsep universal yang di setiap tempat pasti ada dengan nama yang berbeda. Hal ini karena kesadaran akan diri yang “lemah” di hadapan kekuatan-kekuatan di luar diri manusia. Di Jawa Kuno, kekuatan diri adalah kekuatan benda dan ruh nenek-moyang yang pada saat Islam datang ditranformasikan pada selamat dari kekuatan Tuhan yangdapatmerugikandirimanusia.

Slametan adalah upacara sedekah makanan dan doa bersama yang bertujuan untuk memohon keselamatan dan ketentraman untuk keluarga yang menyelenggarakan sebuah upacara.kegiatan slametan sepertinya sudah menjadi tradisi hampir disetiap penjuruh jawa.ada bahkan yang mempercayai bahwa slametan adalah syarat spiritual yang wajib dan jika dilanggar maka akan mendapat ketidakberkahan dan kecelakaan (semua sumber)
Slametan dalam skala kecil yang dilakukan oleh individu atau keluarga bisa nampak ketika mereka mulai membangun rumah, pindahan, ngupati (slametan mendoakan calon bayi yang masih umur empat bulan dalam kandungan), mithoni (slametan untuk calon bayi yang masih umur tujuh bulan dalam kandungan), puputan (lepas pusar), dan masih banyak lainnya. Skala yang lebih besar dapat dijumpai praktik-praktik seperti bersih desa, resik kubur, dan lainnya. Menurut Pamberton praktik yang sarat dengan makna slametan dengan sajen (sesaji) tersebut dilaksanakan dengan maksud agar dapat membangun kembali hubungan dengan roh, terutama dengan ruh penunggu desa (dhanyang). Dengan kata lain, bersih desa bertujuan untuk menjalin hubungan damai dengan dunia ruh setempat.
JENIS-JENIS SLAMETAN
1               Selamatan dalam rangka lingkaran hidup
         seseorang. Jenis selamatan ini meliputi :
         hamil tujuh bulan, kelahiran, potong
         rambut pertama, menyentuh tanah untuk
         pertama kali, menusuk telinga, sunat,
         kematian, peringatan serta saat-saat
         kematian.
      2. Selamatan yang bertalian dengan bersih
         desa. Jenis selamatan ini meliputi
         upacara sebelum penggarapan tanah
         pertanian, dan setelah panen padi.
      3. Selamatan yang berhubungan dengan hari-
         hari serta bulan-bulan besar Islam.
      4. Selamatan yang berkaitan dengan peristiwa
         khusus. Jenis selamatan ini meliputi :
         perjalanan jauh, menempati rumah baru,
         menolak bahaya (ngruwat)
.
 B.NAZAR
    Nazar ialah janji manusia kepada Allah SWT karena menghargai nikmat yang diterima atau mendapat hajat yang dicita. Janji ini wajib ditunaikan. Nazar mewajibkan atas diri sendiri untuk melakukan sesuatu ibadah untuk Allah SWT yang asal hukumnya tidak wajib.Sesuatu nazar yang berbentuk ibadah yang asalnya sunat akan menjadi wajib dengan bernazar untuk melakukannya. Contohnya, anda bernazar untuk puasa hari Isnin dan hari Khamis selama sebulan. Sedangkan hukum asal Isnin dan Khamis adalah sunat, namun dengan bernazar berubah menjadi wajib.
Orang bernazar dengan maksud berbeda-beda. Umumnya, sih, karena sangat ingin doanya terkabul. Sebetulnya, adakah ‘dasar hukum’ dalam bernazar? Ataukah hanya suatu kebiasaan yang pada akhirnya telah menjadi budaya.
Menurut saya salah satu faktor seseorang melakukan nazar karena orang tersebut mempunyai cita-cita namun tidak pernah terwujud sekali ia meminta ia pun mengucapkan nazar agar apa yang dia inginkan tercapai.
Contohnya Lulus SMA, ia ingin berkuliah di Jurusan Hubungan Internasional, FISIP, Universitas Brawijaya. Ia pun bernazar, akan minum 10 gelas jamu hitam yang superpahit di depan keluarga.saat ap yang dicita-citakan itu terkabul ia harus membayar nazarnya yaitu meminum 10 gelas jamu hitam.

C.”GUNUNG KAWI”
Kronologi sejarah wisata ritual Gunung Kawi dimulai pada tahun 1830, setelah Pangeran Diponegoro menyerah pada Belanda. Banyak pengikutnya dan pendukungnya yang melarikan diri ke arah bagian timur pulau Jawa yaitu Jawa Timur. Di antaranya selaku penasehat spiritual Pangeran Diponegoro yang bernama Eyang Djoego atau Kyai Zakaria. Beliau pergi ke berbagai daerah di antaranya Pati, Begelen, Tuban, lalu pergi ke arah Timur Selatan (Tenggara) ke daerah Malang yaitu Kepanjen.
Pengambaranya mencapai daerah Kesamben Blitar, tepatnya di dusun Djoego, Desa Sanan, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Blitar. Diperkirakan beliau sampai di Dusun Djoego sekitar ± tahun 1840, beliau di dusun Djoego ditemani sesepuh Desa Sanan bernama Ki Tasiman. Setelah beliau berdiam di dusun Djoego Desa Sanan beberapa tahun antara dekade tahun 1840-1850 maka datanglah murid-muridnya yang juga putra angkat beliau yang bernama R.M. Jonet atau yang lebih dikenal dengan R.M. Iman Soedjono, beliau ini adalah salah satu dari para senopati Pangeran Diponegoro yang ikut melarikan diri ke daerah timur pulau jawa yaitu Jawa Timur, dalam pengembaraanya beliau telah menemukan seorang guru dan juga sebagai ayah angkat di daerah Kesamben, Kabupaten Blitar tepatnya didusun Djoego Desa Sanan, yaitu Panembahan Eyang Djoego atau Kyai Zakaria, kemudian R.M. Iman Soedjono berdiam di dusun Djoego untuk membantu Eyang Djoego dalam mengelola Padepokan Djoego.
Pada waktu itu Padepokan Djoego telah berkembang, banyak pengunjung menjadi murid Kanjeng Eyang Djoego. Beberapa tahun kemudian ± tahun 1850-1860, datanglah murid R.M. Iman Soedjono yang bernama Ki Moeridun dari Warungasem Pekalongan. Demikianlah setelah R.M.Iman Soedjono dan Ki Moeridun berdiam di Padepokan Djoego, beberapa waktu kemudian diperintahkan pergi ke Gunung Kawi di lereng sebelah selatan, untuk membuka hutan lereng selatan Gunung Kawi. Kanjeng Eyang Djoego berpesan bahwa di tempat pembukaan hutan itulah beliau ingin dikramatkan (dimakamkan), beliau juga berpesan bahwa di desa itulah kelak akan menjadi desa yang ramai dan menjadi tempat pengungsian (imigran).
Dalam masalah pesugihan, sebelumnya pernah membahas tentang Ritual Mesum Pesugihan Gunung Kemukus, kali ini membahas mitos seputar Pesugihan Gunung Kawi. Disaat orang banyak disibukkan dengan kesulitan ekonomi, kadang semua cara digunakan termasuk diantaranya adalah ritual pesugihan.
Ada yang mencari uang dengan bisnis internet, namun karena tidak sedahsyat denga pesugihan maka bagi orang yang malas akhirnya lebih memilih pesugihan. Mitos Pesugihan Gunung Kawi memang dikenal sebagai tempat untuk mencari kekayaan (pesugihan).
Konon, barang siapa melakukan ritual dengan rasa kepasrahan dan pengharapan yang tinggi maka akan terkabul permintaannya, terutama menyangkut masalah kekayaan. Mitos seputar pesugihan Gunung kawi ini diyakini banyak orang, terutama oleh mereka yang sudah merasakan "berkah" berziarah ke Gunung Kawi. Namun bagi kalangan rasionalis-positivis, hal ini merupakan isapan jempol belaka.
Biasanya lonjakan pengunjung yang melakukan ritual terjadi pada hari Jumat Legi (hari pemakaman Eyang Jugo) dan tanggal 12 bulan Suro (memperingati wafatnya Eyang Sujo). Ritual dilakukan dengan meletakkan sesaji, membakar dupa, dan bersemedi selama berjam-jam, berhari-hari, bahkan hingga berbulan-bulan.
Di dalam bangunan makam, pengunjung tidak boleh memikirkan sesuatu yang tidak baik serta disarankan untuk mandi keramas sebelum berdoa di depan makam. Hal ini menunjukkan simbol bahwa pengunjung harus suci lahir dan batin sebelum berdoa.
Selain pesarean sebagai fokus utama tujuan para pengunjung, terdapat tempat-tempat lain yang dikunjungi karena 'dikeramatkan' dan dipercaya mempunyai kekuatan magis untuk mendatangakan keberuntungan, antara lain:
1. Rumah Padepokan Eyang Sujo
Rumah padepokan ini semula dikuasakan kepada pengikut terdekat Eyang Sujo yang bernama Ki Maridun. Di tempat ini terdapat berbagai peninggalan yang dikeramatkan milik Eyang Sujo, antara lain adalah bantal dan guling yang berbahan batang pohon kelapa, serta tombak pusaka semasa perang Diponegoro.
2. Guci Kuno
Dua buah guci kuno merupakan peninggalan Eyang Jugo. Pada jaman dulu guci kuno ini dipakai untuk menyimpan air suci untuk pengobatan. Masyarakat sering menyebutnya dengan nama 'janjam'. Guci kuno ini sekarang diletakkan di samping kiri pesarean. Masyarakat meyakini bahwa dengan meminum air dari guci ini akan membuat seseorang menjadi awet muda.
3. Pohon Dewandaru
Di area pesarean, terdapat pohon yang dianggap akan mendatangkan keberuntungan. Pohon ini disebut pohon dewandaru, pohon kesabaran. Pohon yang termasuk jenis cereme Belanda ini oleh orang Tionghoa disebut sebagai shian-to atau pohon dewa. Eyang Jugo dan Eyang Sujo menanam pohon ini sebagai perlambang daerah ini aman.
Untuk mendapat 'simbol perantara kekayaan', para peziarah menunggu dahan, buah dan daun jatuh dari pohon. Begitu ada yang jatuh, mereka langsung berebut. Untuk memanfaatkannya sebagai azimat, biasanya daun itu dibungkus dengan selembar uang kemudian disimpan ke dalam dompet.
Namun, untuk mendapatkan daun dan buah dewandaru diperlukan kesabaran. Hitungannya bukan hanya, jam, bisa berhari-hari, bahkan berbulan-bulan. Bila harapan mereka terkabul, para peziarah akan datang lagi ke tempat ini untuk melakukan syukuran.
Siapakah sesungguhnya Eyang Jugo dan Eyang Sujo?
Yang dimakamkan dalam satu liang lahat di pesarean Gunung Kawi ini? Menurut Soeryowidagdo (1989), Eyang Jugo atau Kyai Zakaria II dan Eyang Sujo atau Raden Mas Iman Sudjono adalah bhayangkara terdekat Pangeran Diponegoro. Pada tahun 1830 saat perjuangan terpecah belah oleh siasat kompeni, dan Pangeran Diponegoro tertangkap kemudian diasingkan ke Makasar, Eyang Jugo dan Eyang Sujo mengasingkan diri ke wilayah Gunung Kawi ini.
Semenjak itu mereka berdua tidak lagi berjuang dengan mengangkat senjata, tetapi mengubah perjuangan melalui pendidikan. Kedua mantan bhayangkara balatentara Pangeran Diponegoro ini, selain berdakwah agama islam dan mengajarkan ajaran moral kejawen, juga mengajarkan cara bercocok tanam, pengobatan, olah kanuragan serta ketrampilan lain yang berguna bagi penduduk setempat. Perbuatan dan karya mereka sangat dihargai oleh penduduk di daerah tersebut, sehingga banyak masyarakat dari daerah kabupaten Malang dan Blitar datang ke padepokan mereka untuk menjadi murid atau pengikutnya.
Setelah Eyang Jugo meninggal tahun 1871, dan menyusul Eyang Iman Sujo tahun 1876, para murid dan pengikutnya tetap menghormatinya. Setiap tahun, para keturunan, pengikut dan juga para peziarah lain datang ke makam mereka melakukan peringatan. Setiap malam Jumat Legi, malam eninggalnya Eyang Jugo, dan juga peringatan wafatnya Eyang Sujo etiap tanggal 1 bulan Suro (muharram), di tempat ini selalu diadakan erayaan tahlil akbar dan upacara ritual lainnya. Upacara ini iasanya dipimpin oleh juru kunci makam yang masih merupakan para keturunan Eyang Sujo.
Tidak ada persyaratan khusus untuk berziarah ke tempat ini, hanya membawa bunga sesaji, dan menyisipkan uang secara sukarela. Namun para peziarah yakin, semakin banyak mengeluarkan uang atau sesaji, semakin banyak berkah yang akan didapat. Untuk masuk ke makam keramat, para peziarah bersikap seperti hendak menghadap raja, mereka berjalan dengan lutut.
Hingga dewasa ini pesarean tersebut telah banyak dikunjungi oleh berbagai kalangan dari berbagai lapisan masyarakat. Mereka bukan saja berasal dari daerah Malang, Surabaya, atau daerah lain yang berdekatan dengan lokasi pesarean, tetapi juga dari berbagai penjuru tanah air. Heterogenitas pengunjung seperti ini mengindikasikan bahwa sosok kedua tokoh ini adalah tokoh yang kharismatik dan populis.
Namun di sisi lain, motif para pengunjung yang datang ke pesarean ini pun sangat beragam pula. Ada yang hanya sekedar berwisata, mendoakan leluhur, melakukan penelitian ilmiah, dan yang paling umum adalah kunjungan ziarah untuk memanjatkan doa agar keinginan lekas terkabul.
BAB 111
METODE PENELITIAN
A.DESAIN PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan penelitian kualitiatif. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis dengan pendekatan induktif. Proses dan makna lebih ditonjolkan dalam penelitian kualitatif.
B.FOKUS PENELITIAN
Penelitian ini fokus untuk memahami makna dari “slametan sebagai Nazar dalam upacara ritual di Gunung Kawi”
C.SUBJEK PENELITIAN
Pemilihan subjek penelitian adalah Non random sampling, yang artinya peneliti  sudah memiliki kriteria untuk menjadi subjek penelitian yaitu para pemasak di dapur dan para pengunjung Pesarean Gunung Kawi.
D.LOKASI PENELITIAN
Lokasi penelitian diadakan di Pesarean, Gunung Kawi Provinsi Jawa Timur, Kabupaten Malang, Kecamatan Wonosari, Desa Wonosari.
E.TEKNIK PENGUMPULAN DATA
Teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah
1.     Observasi penuh
Observasi adalah suatu cara pengumpulan data dengan mengadakan pengamatan langsung terhadap suatu obyek dalam suatu periode tertentu dan mengadakan pencatatan secara sistematis tentang hal-hal tertentu yang diamati.

2.    wawancara secara tak berstruktur yang wawancara ini ditujukan kepada subjek penelitian.
Menurut pengertiannya wawancara adalah Tekhnik pengumpulan dataatau informasi dari “informan” dan atau “Responden” yang sudah di tetapkan, di lakukandengan cara ”Tanya jawab sepihak tetapi sistematis” atas dasar tujuan penelitian yanghendak di capai.

F. TEKNIK ANALISA DATA
Teknik analisa data yang digunakan adalah menggunakan studi kasus. Dimana kami akan diberikan kertas kerja (work sheet) dan dikertas kerja tersebut sudah dikategorisasikan (Coding)
BAB IV
PEMBAHASAN
Gunung Kawi adalah sebuah gunung berapi di Jawa Timur, Indonesia, dekat dengan Gunung Butak. Tidak ada catatan sejarah mengenai letusan gunung berapi ini.[1]
Gunung Kawi, terletak di sebelah barat kota Malang merupakan obyek wisata yang perlu untuk dikunjungi bila kita berada di Jawa Timur karena keunikannya, obyek wisata ini lebih tepat dijuluki sebagai "kota di pegunungan". Di sini kita tidak akan menemukan suasana gunung yang sepi, tapi justru kita akan disuguhi sebuah pemandangan mirip di negeri tiongkok zaman dulu.
Sore itu tepat pukul 05.00 saya dan teman-teman tiba di desa Wonosari,desa tersebut Nampak ramai dengan pengunjung.sebagian besar pengunjung tesebut nampaknya bukan dari daerah yang dekat namun pengunjung tersebut berasal dari daerah yang jauh bahkan diluar pulau jawa.saya dan teman-teman sangat menikmati keramaian tersebut aktivitas ditempat itu ternyata sangat banyak menyimpan hal-hal yang jarang untuk saya jumpai.udara yang dingin ditemani keramaian yang bunyi khas gamelan jawa turut memeriahkan malam itu.sekilas saya melihat ada gadis-gadis cilik bersama ibu-ibu sedang menjajakan bunga di tepi jalan yang hanya searah itu.selain itu saya juga temukan penjual tikar,penjual bakso dan terdapat pusat pertokoan masyarakat tiong hoa.awalnya saya berpikir bahwa tempat tersebut sebenarnya adalah pasar malam yang sangat menyenangkan bahkan jauh dari anggapan saya bahwa tempat tersebut sangat kental dengan nuansa mistis yang menyeramkan. Sungguh sangat jauh berbeda. Tempat itu sangat jauh dari hiruk pikuk suasana malam di kota malang.
Setelah lelah berjalan-jalan saya lalu mampir kebeberapa tempat sekedar melepas capek saat berjalan dari jalan raya menuju ke atas saya duduk sampbil menikmati semangkuk mie ayam dan segelasss kopi pahit. Benar-benar nikmat. Setelah selesai makan saya melihat banyak teman-teman saya yang bergerombolan menuju ciamsi, dalam hati saya ingin tau apa itu ciamsi,sayapun ikut dengan mereka sampai disana saya melihat banyak orang-orang yang berebutan mengocok bamboo yang didalamnya terdapat lidi-lidi yang telah diberi label berupa angka.tidak ketinggalan sayapun ikut mengambil bagian dalam  permainan tersebut saya mencoba mengocok dan keluarlah 1 lidi yang jatuh dilantai segera saya ambil dan memberikannya kepada seorang kakek yang nampaknya berasal dari keturunan tiong hoa sebagai balasan sang kakek lalu memberikan saya sepotong kertas yang teryata berisi peruntungan yang akan datang.sayapun terus berjalan-jalan hingga ke pesarean  banyak orang-orang disekitar yang bergerombolan bahkan hingga tidur-tiduran,karena merasa capek sayapun kembali turun dan berjalan-jalan kembali kearanh datang tadi. Begitu saya melihat ke kiri ada sebuah loket yang sudah tersedia tulisan-tulisan harga makanan sayapun  merasa penasaran.saya lalu masuk ketempat tersebut dan melihat-lihat ada beberapa orang ibu-ibu yang sedang memasak  saya lalu menghampiri ibu tersebut “malam buk……malam juga dek …jawab sang ibu.buk’…saya boleh liad-liad gak,boleh dek silahkan….sambil tersenyum saya memperhatikan makanan yang ada di tenda-tenda tersebut…wah…buk kayaknya enak ni…..ehehehehehe…ibu lagi masak apa? Ibu tersebut menjawab ini dek lagi masak rending. Buk’selain rending daging yang lainnya ini mau dmasak apa lagi ya….? Ini buat masak sate juga dek.saya lalu menganggukan kepala saja yang berarti saya mengerti…buk….kenapa masaknya masih pake tungku kayu bakar kayak gini,knpa gak pake kompor aja..? gini dek,sebenarnya bisa kalo pake kompor tapi ini merupakan ritual jadi masaknya ya kayak gini,emang cara masak dulu ya seperti ini dek.oia buk ne smua dimasak untuk apa se buk? Ini dimasak untuk ritual slametan.slametan? aq agak kaget ia dek slametan itu dibuat bila ada pemesan,dan pemesan itu adalah mereka yang sudah terpenuhi apa yang mereka minta jadi kayak nazar gitu..o….  tak sampe disitu saja perbincangan saya dan sang ibu itu….masih banyak yang saya tanyakan. Dari apa yang saya dengarkan saya kemudian menganalisis sebagai berikut:
Banyak orang datang ketempat tersebut tenyata untuk berdoa menurut ajaran dan kepercayaan mereka masing-masing. Selain itu mereka juga mengikuti satu ritual yaitu ritual slametan.slametan merupakan syukuran menurut para pengunjung, slametan dibuat berdasarkan nazar seseorang. Dia datang ke pesarean dan berdoa meminta sesuatu yang menjadi tujuannya hidup didunia.pada saat ia meminta ia menyampaikan janji ato yang disebut nazar bahwa kalau keinginannya terkabul maka ia akan mengadakan slametan. Yang mana slametan tersebut yang dipesannya di dapur tersebut.jadi disini terdapat 2 hal menarik yaitu SLAMETAN dan NAZAR.yang mana ketiga-tiganya tersebut sangat errant kaitanya dengan kebudayaan masyarakat jawa dan kepercayaan seseorang terhadap makam atau pesarean tersebut.disini saya mengaitkan dengan beberapa teori yaitu teori kepercayaan atau religious Pada saat manusia menghidangkan sesaji, menurut Robertson Smith (Kcentjaraningrat, 1990:68) memiliki fungsi sebagai aktivitas untuk mendorong rasa solidaritas dengan para dewa. Dewa dianggap sebagai komunitas istimewa. Hal juga ditegaskan oleh Preusz bahwa pusat dari religi dan kepercayaan adalah ritus atau upacara
Dalam pandangan Geertz (2000:170) religi adalah sebuah pengalaman unik yang bermakna, memuat identitas diri, dan kekuatan tertentu. Sebagai sebuah pengalaman, tentu saja religi tak akan lebih dari subyektivitas pelakunya. Dengan kata lain, religi akan berhu­bungan dengan rasa, tindakan, dan pengalaman nyata yang berbeda­beda satu dengan yang lain. Setiap orang memiliki perasaan dan pengalaman yang berbeda dalam menjalankan religi masing-masing. Bahkan, dalam perkembangan selanjutnya religi sering dipengaruhi oleh hal ihwal di luar dirinya. Aktivitas politik, modernisasi, gender, dan perubahan dunia amat berpengaruh terhadap fenomena religi. Itulah sebabnya, kajian religi boleh sangat luas dan melebar sesuai keperluan.Para peziara datang Gunung Kawi memiliki tujuan yaitu untuk meminta perlindungan dan menyampaikan apa yang menjadi maksud kedatangan.mereka percaya bahwa makam Eang Djugo mampu untuk meneruskan apa yang menjadi permintaan mereka kepada Tuhan selain itu untuk menyampaikan rasa syukur mereka lalu mengadakan slametan yang awalnya menjadi nazar mereka apabila yang menjadi permintaan dapat terkabulkan
BAB V
PENUTUP
A.   KESIMPULAN
Pesarean yang berada di Gunung Kawi, desa Wonosari, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur merupakan satu dari sekian banyak tempat wisata spiritual yang berada di Indonesia.namun tempat ini tergolong unik karena banyak sekali pengunjung yang datang untuk melakukan ibadah hingga berhari-hari.dan juga banyak pengunjung yang datang bukan hanya dari pulau jawa melainkan diluar pulau jawa juga
Makna slametan pada ritual digunung kawi teryata tdk jauh berbeda dari makna slametan yang dikemukakan pada umumnya yaitu sebagai ucapan rasa syukur terhadap sesuatu yang tellah dikabulkn oleh Yang Maha Kuasa dan wujud dari ucapan rasa syukur tersebut yaitu berupa makanan-makanan yang diisi besek dan di bagikan kepada orang-orang yang telah membayar diloket makan sesuai pesanannya.
Menurut teori Dalam pandangan Geertz (2000:170) religi adalah sebuah pengalaman unik yang bermakna, memuat identitas diri, dan kekuatan tertentu. Sebagai sebuah pengalaman, tentu saja religi tak akan lebih dari subyektivitas pelakunya. Dengan kata lain, religi akan berhu­bungan dengan rasa, tindakan, dan pengalaman nyata yang berbeda­beda satu dengan yang lain. Setiap orang memiliki perasaan dan pengalaman yang berbeda dalam menjalankan religi masing-masing. Bahkan, dalam perkembangan selanjutnya religi sering dipengaruhi oleh hal ihwal di luar dirinya. Aktivitas politik, modernisasi, gender, dan perubahan dunia amat berpengaruh terhadap fenomena religi. Itulah sebabnya, kajian religi boleh sangat luas dan melebar sesuai keperluan.jadi para pengunjung sangat yakin bahwa kepercaan mereka terhadap makam sangatlah benar adanya,yang tenyata mampu memgabulkan permintaan. Dan slametan juga merupakan sebuah tindakan yang menunjukan semakin kuat rasa percaya kepada sang penghuni makam tersebut.
B.KRITIK DAN SARAN
Demikian yang dapat saya  paparkan mengenai materi yang menjadi pokok bahasan dalam laporan ini, tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahannya, kerena terbatasnya pengetahuan dan kurangnya rujukan atau referensi yang ada hubungannya dengan judul laporan ini. Penulis banyak berharap para pembaca yang budiman dapai memberikan kritik dan saran yang membangun kepada penulis demi sempurnanya laporan ini dan dan penulisan laporan di kesempatan – kesempatan berikutnya.
DAFTAR PUSTAKA
http://www.jogjatrip.com/id/encyclopedia/detail/1309/slametan/
Koentjaraningrat, 1988 Ilmu Antropologi. Jakarta: Bhratara

http://www.jawapalace.org/;

Munawwir, Ahmad Warson. 1997. Kamus al-Munawwir. Yogyakarta: Pustaka Progressif.
http://www.docstoc.com/docs/27222096/KONSEP-DAN-TEORI-KEBUDAYAAN



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar